. Polusi Udara di Jakarta dan Sekitarnya: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya - PORTAL INFORMASI KESEHATAN
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Blogger Jateng

Polusi Udara di Jakarta dan Sekitarnya: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Polusi udara adalah salah satu masalah lingkungan yang serius di Indonesia, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Menurut data dari IQAir, sebuah platform yang menyediakan informasi kualitas udara secara real-time, Jakarta berada di peringkat ke-25 sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia pada tahun 2020¹. Pada bulan September 2021, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai angka 156, yang berarti tidak sehat bagi semua kelompok orang².

Polusi udara tidak hanya merusak pemandangan dan estetika kota, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Berbagai penyakit pernapasan, jantung, dan kanker dapat ditimbulkan atau diperparah oleh polusi udara. Selain itu, polusi udara juga berkontribusi terhadap pemanasan global, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem.

Polusi jakarta hari ini

Lalu, apa penyebab polusi udara di Jakarta dan sekitarnya? Bagaimana dampaknya bagi kesehatan dan lingkungan? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah ini? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengulas beberapa poin penting berikut:

  • Sumber-sumber polusi udara di Jakarta dan sekitarnya
  • Dampak polusi udara bagi kesehatan manusia
  • Dampak polusi udara bagi lingkungan
  • Cara-cara mengurangi polusi udara secara individu dan kolektif
  • Rekomendasi kebijakan dan solusi untuk mengatasi polusi udara

Sumber-sumber Polusi Udara di Jakarta dan Sekitarnya

Polusi udara adalah kondisi di mana udara mengandung zat-zat pencemar yang melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh standar kualitas udara. Zat-zat pencemar tersebut dapat berupa partikel padat atau cair (misalnya debu, asap, atau jelaga), gas (misalnya karbon monoksida, nitrogen oksida, atau sulfur dioksida), atau senyawa organik (misalnya benzena, formaldehida, atau toluena).

Sumber-sumber polusi udara dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sumber antropogenik (yang berasal dari aktivitas manusia) dan sumber alami (yang berasal dari proses alam). Berikut adalah beberapa sumber utama polusi udara di Jakarta dan sekitarnya:

Sumber Antropogenik

  • Kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor merupakan sumber utama emisi gas buang yang mengandung karbon monoksida, hidrokarbon, nitrogen oksida, dan partikel halus (PM2.5). Menurut data dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dan sekitarnya mencapai 23 juta unit pada tahun 2019³. Jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan penduduk dan mobilitas. Selain itu, banyak kendaraan bermotor yang tidak memenuhi standar emisi yang berlaku, sehingga menambah tingkat pencemaran udara.
  • Industri. Industri merupakan sumber kedua terbesar emisi gas buang yang mengandung sulfur dioksida, nitrogen oksida, karbon dioksida, dan partikel halus (PM2.5). Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), terdapat sekitar 4.000 industri di Jakarta dan sekitarnya yang berpotensi mencemari udara⁴. Industri-industri tersebut meliputi sektor energi, manufaktur, pertambangan, konstruksi, dan lain-lain. Meskipun sudah ada peraturan tentang baku mutu emisi gas buang bagi industri, masih banyak industri yang belum mematuhi atau belum memiliki fasilitas pengendali pencemaran.
  • Pembakaran sampah. Pembakaran sampah merupakan sumber ketiga terbesar emisi gas buang yang mengandung karbon monoksida, hidrokarbon, nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan partikel halus (PM2.5). Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, volume sampah yang dihasilkan di Jakarta mencapai 7.500 ton per hari⁵. Dari jumlah tersebut, sekitar 15 persen dibakar oleh masyarakat atau petugas kebersihan⁶. Pembakaran sampah ini tidak hanya menghasilkan polutan udara, tetapi juga mengurangi nilai ekonomis dan lingkungan dari sampah yang seharusnya bisa didaur ulang atau dimanfaatkan.

Sumber Alami

  • Kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan merupakan sumber utama emisi asap yang mengandung partikel halus (PM2.5), karbon monoksida, hidrokarbon, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida. Menurut data dari Global Forest Watch, luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 4,3 juta hektar⁷. Kebakaran hutan dan lahan ini disebabkan oleh faktor alam (misalnya petir atau suhu tinggi) atau faktor manusia (misalnya pembukaan lahan atau pembalakan liar). Asap dari kebakaran hutan dan lahan ini dapat menyebar ke berbagai daerah, termasuk Jakarta dan sekitarnya, terutama pada musim kemarau.
  • Aktivitas vulkanik. Aktivitas vulkanik merupakan sumber utama emisi abu vulkanik yang mengandung partikel halus (PM2.5), karbon dioksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan hidrogen sulfida. Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terdapat 127 gunung berapi aktif di Indonesia⁸. Aktivitas vulkanik ini dapat berupa letusan, erupsi, atau semburan gas yang dapat menghasilkan abu vulkanik. Abu vulkanik ini dapat terbawa oleh angin ke berbagai daerah, termasuk Jakarta dan sekitarnya, terutama pada saat terjadi letusan besar.

Dampak Polusi Udara bagi Kesehatan Manusia

Polusi udara memiliki dampak negatif bagi kesehatan manusia, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut adalah beberapa dampak polusi udara bagi kesehatan manusia:

Dampak Jangka Pendek

  • Iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Polutan udara dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan yang ditandai dengan rasa gatal, kering, atau pedih. Iritasi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup.
  • Infeksi saluran pernapasan. Polutan udara dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang ditandai dengan batuk, pilek, demam, atau sesak napas. Infeksi saluran pernapasan dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui udara yang tercemar. Infeksi saluran pernapasan dapat berisiko menjadi pneumonia atau bronkitis jika tidak ditangani dengan baik.
  • Alergi. Polutan udara dapat menyebabkan alergi yang ditandai dengan bersin-bersin, hidung tersumbat, mata merah, atau ruam kulit. Alergi dapat disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh melalui udara yang tercemar. Alergi dapat berisiko menjadi asma jika tidak ditangani dengan baik.

Dampak Jangka Panjang

  • Penyakit paru-paru kronis. Polusi udara dapat menyebabkan penyakit paru-paru kronis yang ditandai dengan sesak napas, batuk kronis, atau penurunan fungsi paru-paru. Penyakit paru-paru kronis dapat disebabkan oleh kerusakan jaringan paru-paru akibat paparan polutan udara dalam waktu lama. Beberapa contoh penyakit paru-paru kronis yang berkaitan dengan polusi udara adalah asma, bronkitis kronis, emfisema, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  • Penyakit jantung. Polusi udara dapat menyebabkan penyakit jantung yang ditandai dengan nyeri dada, sesak napas, atau denyut jantung tidak teratur. Penyakit jantung dapat disebabkan oleh pengerasan atau penyempitan pembuluh darah akibat paparan polutan udara dalam waktu lama. Beberapa contoh penyakit jantung yang berkaitan dengan polusi udara adalah angina, serangan jantung, gagal jantung, dan stroke.
  • Penyakit kanker. Polusi udara dapat menyebabkan penyakit kanker yang ditandai dengan pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali. Penyakit kanker dapat disebabkan oleh mutasi gen akibat paparan polutan udara dalam waktu lama. Beberapa contoh penyakit kanker yang berkaitan dengan polusi udara adalah kanker paru-paru, kanker hidung, kanker tenggorokan, dan kanker darah.

Dampak polusi udara bagi kesehatan manusia tidak hanya tergantung pada jenis dan konsentrasi polutan udara, tetapi juga pada faktor-faktor lain seperti usia, kondisi kesehatan, gaya hidup, dan tingkat paparan. Menurut data dari World Health Organization (WHO), sekitar 7 juta orang meninggal dunia setiap tahun akibat polusi udara. Di Indonesia sendiri, sekitar 250 ribu orang meninggal dunia setiap tahun akibat polusi udara.

Dampak Polusi Udara bagi Lingkungan

Polusi udara juga memiliki dampak negatif bagi lingkungan, baik lokal maupun global. Berikut adalah beberapa dampak polusi udara bagi lingkungan:

Dampak Lokal

  • Hujan asam. Hujan asam adalah hujan yang memiliki pH lebih rendah dari normal (di bawah 5,6) akibat terlarutnya gas-gas asam seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida dalam air hujan. Hujan asam dapat merusak tanaman, tanah, air, bangunan, dan monumen yang terpapar olehnya. Hujan asam juga dapat mengubah keseimbangan ekosistem dan mengancam keanekaragaman hayati.
  • Smog. Smog adalah kabut yang terbentuk akibat reaksi kimia antara polutan udara dengan sinar matahari. Smog dapat mengurangi jarak pandang, mengganggu lalu lintas, dan menimbulkan bau tidak sedap. Smog juga dapat mempengaruhi iklim lokal dengan menyerap atau memantulkan radiasi matahari.
  • Efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah fenomena di mana gas-gas tertentu seperti karbon dioksida, metana, dan ozon menyerap radiasi inframerah yang dipancarkan oleh permukaan bumi dan mengembalikannya ke bumi. Efek rumah kaca dapat meningkatkan suhu permukaan bumi dan mengubah pola cuaca lokal.

Dampak Global

  • Pemanasan global. Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Pemanasan global dapat menyebabkan berbagai perubahan iklim global seperti peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam, pencairan es kutub dan gletser, kenaikan permukaan air laut, dan pergeseran zona iklim dan habitat.
  • Perubahan iklim. Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang pada kondisi cuaca rata-rata di suatu wilayah atau di seluruh dunia akibat pemanasan global. Perubahan iklim dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan seperti ketersediaan air, produksi pangan, kesehatan, energi, ekonomi, dan keamanan.
  • Pengurangan lapisan ozon. Pengurangan lapisan ozon adalah penipisan lapisan ozon di stratosfer akibat reaksi kimia antara ozon dengan senyawa-senyawa yang mengandung klorin atau bromin seperti klorofluorokarbon (CFC) atau hidrofluorokarbon (HFC). Lapisan ozon berfungsi sebagai pelindung bumi dari radiasi ultraviolet yang berbahaya. Pengurangan lapisan ozon dapat meningkatkan risiko penyakit kulit, mata, dan imun.

Dampak polusi udara bagi lingkungan tidak hanya tergantung pada jenis dan konsentrasi polutan udara, tetapi juga pada faktor-faktor lain seperti lokasi, waktu, dan kondisi atmosfer. Menurut data dari United Nations Environment Programme (UNEP), polusi udara menyebabkan kerugian ekonomi global sebesar 5 triliun dolar AS setiap tahun akibat dampaknya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Cara-cara Mengurangi Polusi Udara secara Individu dan Kolektif

Polusi udara adalah masalah yang kompleks dan multidimensi yang membutuhkan kerjasama dan partisipasi dari semua pihak yang terlibat. Berikut adalah beberapa cara-cara mengurangi polusi udara secara individu dan kolektif:

Cara-cara Individu

  • Menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki. Menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki dapat mengurangi jumlah kendaraan bermotor di jalan dan menghemat bahan bakar. Hal ini dapat mengurangi emisi gas buang yang mencemari udara.
  • Menggunakan kendaraan bermotor yang ramah lingkungan. Menggunakan kendaraan bermotor yang ramah lingkungan seperti kendaraan listrik, hibrida, atau bertenaga gas dapat mengurangi emisi gas buang yang mencemari udara. Hal ini juga dapat menghemat biaya operasional dan perawatan kendaraan.
  • Menghemat energi listrik. Menghemat energi listrik dapat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang digunakan untuk menghasilkan listrik. Hal ini dapat mengurangi emisi gas buang yang mencemari udara. Beberapa cara menghemat energi listrik adalah menggunakan lampu hemat energi, mematikan peralatan elektronik yang tidak digunakan, dan menggunakan energi terbarukan seperti surya atau angin.
  • Mengelola sampah dengan baik. Mengelola sampah dengan baik dapat mengurangi jumlah sampah yang dibakar atau dibuang sembarangan. Hal ini dapat mengurangi emisi gas buang dan asap yang mencemari udara. Beberapa cara mengelola sampah dengan baik adalah memilah sampah organik dan anorganik, mendaur ulang sampah anorganik, dan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos atau biogas.
  • Menanam pohon dan tanaman. Menanam pohon dan tanaman dapat meningkatkan kualitas udara dengan menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen. Hal ini juga dapat menyejukkan suhu udara dengan memberikan naungan dan kelembaban. Selain itu, menanam pohon dan tanaman juga dapat memperindah lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan.

Cara-cara Kolektif

  • Meningkatkan kesadaran masyarakat. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya polusi udara dan cara-cara mengatasinya dapat memotivasi masyarakat untuk berperilaku lebih ramah lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi, edukasi, kampanye, atau advokasi melalui berbagai media dan kanal komunikasi. Selain itu, meningkatkan kesadaran masyarakat juga dapat mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan pengawasan terkait isu polusi udara.
  • Meningkatkan kerjasama antar-pihak. Meningkatkan kerjasama antar-pihak yang terlibat dalam masalah polusi udara dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam penanganan masalah ini. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk forum, jaringan, atau kemitraan antara pemerintah, swasta, akademisi, LSM, media, dan masyarakat. Selain itu, meningkatkan kerjasama antar-pihak juga dapat meningkatkan akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan polusi udara.
  • Meningkatkan penegakan hukum. Meningkatkan penegakan hukum terkait polusi udara dapat mencegah dan menghukum pelaku-pelaku pencemaran udara. Hal ini dapat dilakukan dengan menyusun, merevisi, atau menyempurnakan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan polusi udara. Selain itu, meningkatkan penegakan hukum juga dapat meningkatkan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap peraturan-peraturan tersebut.
  • Meningkatkan penelitian dan pengembangan. Meningkatkan penelitian dan pengembangan terkait polusi udara dapat menghasilkan solusi-solusi inovatif dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan studi-studi ilmiah, teknis, sosial, atau ekonomi yang berkaitan dengan polusi udara. Selain itu, meningkatkan penelitian dan pengembangan juga dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia yang terlibat dalam penanganan polusi udara.

Rekomendasi Kebijakan dan Solusi untuk Mengatasi Polusi Udara

Polusi udara adalah masalah yang membutuhkan tindakan cepat dan tegas dari semua pihak yang terlibat. Berikut adalah beberapa rekomendasi kebijakan dan solusi untuk mengatasi polusi udara di Jakarta dan sekitarnya:

Rekomendasi Kebijakan

  • Menerapkan sistem zonasi transportasi. Sistem zonasi transportasi adalah sistem yang membatasi jumlah kendaraan bermotor yang boleh masuk ke suatu wilayah berdasarkan nomor plat, jenis kendaraan, atau waktu tertentu. Sistem ini dapat mengurangi kemacetan lalu lintas dan emisi gas buang yang mencemari udara. Beberapa contoh sistem zonasi transportasi yang sudah diterapkan di beberapa kota di dunia adalah [congestion charge] di London, [area C] di Milan, atau [odd-even scheme] di Delhi.
  • Menerapkan sistem insentif dan disinsentif bagi industri. Sistem insentif dan disinsentif bagi industri adalah sistem yang memberikan hadiah atau hukuman bagi industri yang mematuhi atau melanggar baku mutu emisi gas buang. Sistem ini dapat mendorong industri untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan dan mengurangi emisi gas buang yang mencemari udara. Beberapa contoh sistem insentif dan disinsentif bagi industri yang sudah diterapkan di beberapa negara di dunia adalah [emission trading scheme] di Uni Eropa, [carbon tax] di Kanada, atau [green credit policy] di China.
  • Menerapkan sistem pemantauan dan pelaporan kualitas udara. Sistem pemantauan dan pelaporan kualitas udara adalah sistem yang mengukur dan menyampaikan informasi tentang konsentrasi polutan udara di suatu wilayah secara berkala. Sistem ini dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan polusi udara. Selain itu, sistem ini juga dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mengatasi polusi udara. Beberapa contoh sistem pemantauan dan pelaporan kualitas udara yang sudah diterapkan di beberapa kota di dunia adalah [Air Quality Index (AQI)] di Amerika Serikat, [Air Pollution Index (API)] di Malaysia, atau [Air Visual] di Indonesia.

Rekomendasi Solusi

  • Mengembangkan transportasi publik yang massal, terintegrasi, dan berkelanjutan. Transportasi publik yang massal, terintegrasi, dan berkelanjutan adalah transportasi publik yang dapat mengangkut banyak penumpang, terhubung dengan berbagai moda transportasi lain, dan menggunakan energi terbarukan atau rendah emisi. Transportasi publik ini dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor pribadi dan mengurangi emisi gas buang yang mencemari udara. Beberapa contoh transportasi publik yang massal, terintegrasi, dan berkelanjutan yang sudah dikembangkan di beberapa kota di dunia adalah [MRT] di Singapura, [BRT] di Bogota, atau [Cable Car] di Medellin.
  • Mengembangkan industri hijau yang ramah lingkungan dan berdaya saing. Industri hijau yang ramah lingkungan dan berdaya saing adalah industri yang menggunakan teknologi ramah lingkungan, menghemat energi, mengurangi limbah, dan meningkatkan produktivitas. Industri hijau ini dapat mengurangi dampak negatif industri terhadap lingkungan dan mengurangi emisi gas buang yang mencemari udara. Selain itu, industri hijau juga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk atau jasa yang dihasilkan. Beberapa contoh industri hijau yang ramah lingkungan dan berdaya saing yang sudah dikembangkan di beberapa negara di dunia adalah [green building] di Jerman, [green chemistry] di Swiss, atau [green tourism] di Selandia Baru.
  • Mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang efisien dan efektif. Sistem pengelolaan sampah yang efisien dan efektif adalah sistem yang dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), mengubah sampah menjadi sumber energi atau bahan baku, dan meningkatkan nilai ekonomis dan lingkungan dari sampah. Sistem pengelolaan sampah ini dapat mengurangi emisi gas buang dan asap dari pembakaran sampah yang mencemari udara. Selain itu, sistem pengelolaan sampah juga dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Beberapa contoh sistem pengelolaan sampah yang efisien dan efektif yang sudah dikembangkan di beberapa kota di dunia adalah [waste-to-energy] di Swedia, [waste-to-material] di Jepang, atau [waste bank] di Indonesia.

Penutup

Polusi udara adalah masalah lingkungan yang serius yang membutuhkan perhatian dan tindakan dari semua pihak yang terlibat. Polusi udara tidak hanya merusak pemandangan dan estetika kota, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

Posting Komentar untuk "Polusi Udara di Jakarta dan Sekitarnya: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya"