. Aspek Psikologis dalam Menentukan Jumlah Anak yang Diinginkan - PORTAL INFORMASI KESEHATAN
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Blogger Jateng

Aspek Psikologis dalam Menentukan Jumlah Anak yang Diinginkan

Jumlah anak yang diinginkan oleh setiap pasangan dapat berbeda-beda, tergantung pada berbagai faktor, baik dari segi biologis, sosial, ekonomi, maupun psikologis. Faktor psikologis merupakan salah satu faktor yang penting untuk dipahami, karena berkaitan dengan nilai, harapan, dan motivasi pasangan dalam memiliki anak. Artikel ini akan membahas tentang aspek psikologis dalam menentukan jumlah anak yang diinginkan, serta kenyataan yang dihadapi oleh pasangan dalam merealisasikan keinginan tersebut.

Aspek Psikologis dalam Menentukan Jumlah Anak yang Diinginkan

Menurut teori nilai anak (value of children theory), orang tua memiliki anak karena mereka mengharapkan anak-anak mereka dapat memberikan manfaat tertentu bagi diri mereka sendiri, keluarga, atau masyarakat. Manfaat tersebut dapat bersifat utilitarian (misalnya, bantuan ekonomi, dukungan sosial, atau warisan budaya) atau psikologis (misalnya, kebahagiaan, kepuasan, atau aktualisasi diri).

Salah satu aspek psikologis yang mempengaruhi jumlah anak yang diinginkan adalah harapan (hope). Harapan adalah persepsi atau pemikiran individu dalam mengonseptualisasikan tujuan secara jelas, dengan menjadikan motivasi untuk meraih tujuan, dan upaya mengembangkan strategi spesifik untuk mencapai tujuan tersebut di masa depan. Harapan terdiri dari dua komponen utama, yaitu pathway thinking (berpikir tentang cara-cara untuk mencapai tujuan) dan agency thinking (berpikir tentang kemampuan dan kepercayaan diri untuk mencapai tujuan).

Aspek Psikologis dalam Menentukan Jumlah Anak yang Diinginkan

Harapan dapat mempengaruhi jumlah anak yang diinginkan oleh pasangan, karena harapan berkaitan dengan ekspektasi dan aspirasi mereka terhadap anak-anak mereka. Pasangan yang memiliki harapan tinggi terhadap anak-anak mereka cenderung menginginkan jumlah anak yang lebih sedikit, karena mereka ingin memberikan perhatian, pendidikan, dan kesejahteraan yang optimal bagi anak-anak mereka. Pasangan yang memiliki harapan rendah terhadap anak-anak mereka cenderung menginginkan jumlah anak yang lebih banyak, karena mereka menganggap anak-anak mereka sebagai sumber penghasilan, bantuan kerja, atau jaminan masa tua.

Harapan juga dapat mempengaruhi konsistensi antara jumlah anak yang diinginkan dan jumlah anak yang dimiliki oleh pasangan. Pasangan yang memiliki harapan tinggi terhadap anak-anak mereka cenderung lebih konsisten dalam merealisasikan jumlah anak yang diinginkan, karena mereka lebih berhati-hati dalam merencanakan kehamilan dan menggunakan kontrasepsi. Pasangan yang memiliki harapan rendah terhadap anak-anak mereka cenderung lebih inkonsisten dalam merealisasikan jumlah anak yang diinginkan, karena mereka lebih bersifat pasif atau fatalistik dalam menghadapi kehamilan dan kurang menggunakan kontrasepsi.

Kenyataan yang Dihadapi oleh Pasangan dalam Merealisasikan Jumlah Anak yang Diinginkan

Meskipun pasangan memiliki jumlah anak yang diinginkan berdasarkan aspek psikologisnya, namun tidak selalu mudah bagi mereka untuk merealisasikan keinginan tersebut. Ada beberapa kenyataan atau tantangan yang dapat menghalangi atau mengubah jumlah anak yang diinginkan oleh pasangan, antara lain:

Faktor biologis. Faktor biologis seperti kesuburan, usia reproduksi, kesehatan ibu dan janin, serta jenis kelamin bayi dapat mempengaruhi kemampuan pasangan untuk memiliki anak sesuai dengan keinginan mereka. Beberapa pasangan mungkin mengalami kesulitan untuk hamil atau melahirkan karena masalah kesuburan atau kesehatan. Beberapa pasangan mungkin menginginkan anak dengan jenis kelamin tertentu, tetapi tidak dapat memilih atau memprediksi jenis kelamin bayi yang akan lahir.

Faktor sosial. Faktor sosial seperti norma, tradisi, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, dan lingkungan sosial dapat mempengaruhi preferensi dan tekanan pasangan dalam menentukan jumlah anak yang diinginkan. Beberapa pasangan mungkin menginginkan jumlah anak yang sesuai dengan norma atau tradisi keluarga atau masyarakat mereka. Beberapa pasangan mungkin menginginkan jumlah anak yang sesuai dengan ajaran agama atau keyakinan mereka. Beberapa pasangan mungkin menginginkan jumlah anak yang sesuai dengan tingkat pendidikan, pekerjaan, atau status perkawinan mereka. Beberapa pasangan mungkin menginginkan jumlah anak yang sesuai dengan dukungan atau sumber daya yang tersedia di lingkungan sosial mereka.

Faktor ekonomi. Faktor ekonomi seperti pendapatan, pengeluaran, kemiskinan, dan kesejahteraan dapat mempengaruhi kemampuan dan kesediaan pasangan untuk memiliki anak sesuai dengan keinginan mereka. Beberapa pasangan mungkin menginginkan jumlah anak yang sesuai dengan pendapatan atau pengeluaran mereka. Beberapa pasangan mungkin menginginkan jumlah anak yang sesuai dengan tingkat kemiskinan atau kesejahteraan mereka. Beberapa pasangan mungkin menginginkan jumlah anak yang sesuai dengan harapan atau aspirasi mereka terhadap masa depan anak-anak mereka.

Kesimpulan

Jumlah anak yang diinginkan oleh setiap pasangan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aspek psikologis seperti harapan. Harapan berkaitan dengan nilai, motivasi, dan strategi pasangan dalam memiliki anak. Harapan dapat mempengaruhi jumlah anak yang diinginkan, serta konsistensi antara jumlah anak yang diinginkan dan jumlah anak yang dimiliki oleh pasangan. Namun, ada juga beberapa kenyataan atau tantangan yang dapat menghalangi atau mengubah jumlah anak yang diinginkan oleh pasangan, seperti faktor biologis, sosial, dan ekonomi.

Posting Komentar untuk "Aspek Psikologis dalam Menentukan Jumlah Anak yang Diinginkan"