. Patofisiologi KAD (Ketosis Acidosis Diabeticum) - PORTAL INFORMASI KESEHATAN
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Blogger Jateng

Patofisiologi KAD (Ketosis Acidosis Diabeticum)

Patofisiologi KAD (Ketosis Acidosis Diabeticum)

KAD (Ketosis Acidosis Diabeticum) adalah suatu keadaan yang terjadi pada penderita diabetes ketosis-prone, di mana terjadi peningkatan kadar asam keton (ketosis) dan asidosis metabolik. Patofisiologi KAD melibatkan ketidakseimbangan antara produksi dan penggunaan glukosa dalam tubuh, yang terjadi terutama pada penderita diabetes tipe 1, meskipun dapat juga terjadi pada beberapa kasus diabetes tipe 2.

Berikut adalah penjelasan mengenai patofisiologi KAD:
  1. Defisiensi insulin: Pada diabetes tipe 1, terjadi kerusakan sel beta di pankreas yang menghasilkan insulin. Hal ini menyebabkan defisiensi insulin yang signifikan. Kekurangan insulin menghambat masuknya glukosa ke dalam sel, sehingga tubuh mengalami kekurangan energi yang diperlukan.
  2. Penggunaan alternatif sumber energi: Kekurangan insulin menghambat penggunaan glukosa sebagai sumber energi utama oleh sel-sel tubuh. Akibatnya, tubuh beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi alternatif. Lemak dipecah menjadi asam lemak dan dikonversi menjadi keton di hati melalui proses yang disebut lipolisis. Keton, seperti asetoasetat, asam beta-hidroksibutirat, dan asam aseton, kemudian dilepaskan ke dalam sirkulasi darah.
  3. Akumulasi asam keton: Dalam keadaan normal, tubuh mampu memetabolisme dan mengeluarkan keton dalam jumlah yang sesuai. Namun, pada KAD, karena defisiensi insulin dan gangguan metabolisme lemak, produksi keton meningkat dengan cepat, sedangkan pengeluarannya terhambat. Hal ini menyebabkan akumulasi asam keton dalam darah.
  4. Gangguan asam-basa: Akumulasi asam keton dalam darah menyebabkan peningkatan kadar asam dalam tubuh, yang mengganggu keseimbangan asam-basa. Proses ini menghasilkan peningkatan asam dalam darah (asidosis metabolik), dengan penurunan pH darah di bawah tingkat normal.
  5. Gejala dan komplikasi: Asidosis metabolik yang terjadi pada KAD dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti nafas berbau aseton, kelelahan, mual, muntah, dehidrasi, dan gangguan kesadaran. Jika tidak ditangani dengan baik, KAD dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, seperti edema otak, gagal ginjal, dan gangguan irama jantung.

Dalam pengobatan KAD, langkah-langkah utama meliputi rehidrasi (penggantian cairan), penggantian insulin, koreksi elektrolit, dan pengobatan penyakit yang mendasari.

Patofisiologi KAD (Ketosis Acidosis Diabeticum)

Berikut adalah tiga diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan KAD (Ketosis Acidosis Diabeticum) beserta intervensi yang harus dilakukan:

1. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Diagnosa keperawatan: Risiko defisit volume cairan terkait dengan kehilangan cairan berlebihan dan dehidrasi akibat KAD.

Intervensi:

    • Monitor tanda-tanda vital pasien, termasuk tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan turgor kulit.
    • Periksa status hidrasi pasien, termasuk pengukuran berat badan, pengukuran intake dan output cairan, serta pantau kadar elektrolit dalam darah.
    • Berikan terapi rehidrasi dengan pemberian cairan intravena sesuai kebutuhan dan perhitungan cairan tubuh yang hilang.
    • Edukasi pasien tentang pentingnya menjaga kecukupan asupan cairan dan mengidentifikasi tanda-tanda dehidrasi yang perlu dilaporkan.

2. Gangguan Pola Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh

Diagnosa keperawatan: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh terkait dengan defisiensi insulin, ketosis, dan kegagalan metabolisme karbohidrat.

Intervensi: 

    • Lakukan pemantauan gula darah secara teratur dan pantau kadar keton dalam darah atau urine pasien.
    • Berikan diet yang sesuai dengan kondisi pasien, seperti diet rendah karbohidrat dan tinggi protein dengan tujuan mengurangi ketosis dan mengendalikan gula darah.
    • Berikan insulin secara tepat dan sesuai dengan rencana pengobatan diabetes pasien.
    • Berikan edukasi tentang pentingnya mengikuti diet yang tepat, menjaga asupan karbohidrat yang seimbang, dan memantau gula darah secara teratur.

3. Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit

Diagnosa keperawatan: Risiko ketidakseimbangan elektrolit terkait dengan gangguan metabolisme dan asidosis metabolik pada KAD.

Intervensi:

    • Monitor kadar elektrolit dalam darah pasien, termasuk natrium, kalium, dan klorida.
    • Pantau tanda-tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit, seperti kelemahan otot, kelainan irama jantung, kejang, dan perubahan tingkat kesadaran.
    • Berikan terapi elektrolit sesuai dengan kebutuhan pasien, baik melalui pemberian oral atau intravena.
    • Edukasi pasien dan keluarga mengenai pentingnya mengikuti diet yang tepat untuk menjaga keseimbangan elektrolit.

Penting untuk dicatat bahwa diagnosa keperawatan dan intervensi yang tepat dapat bervariasi tergantung pada kondisi klinis pasien. Penting untuk melibatkan tim perawatan kesehatan, termasuk dokter dan perawat, dalam menentukan diagnosa keperawatan yang paling relevan dan rencana perawatan yang sesuai untuk pasien dengan KAD.

Posting Komentar untuk "Patofisiologi KAD (Ketosis Acidosis Diabeticum)"